Rabu, 02 April 2014

Alasan PT. KAI Pilih Impor Kereta Bekas Jepang Karena Murah Meriah




Alasan  PT. KAI Pilih Impor Kereta Bekas Jepang
Karena Murah Meriah

PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan terus melakukan impor kereta rel listrik (KRL) bekas asal Jepang. Alasan KAI sederhana, kereta bekas ini murah dan kondisinya masih layak jalan.
         
"Harganya hanya Rp 900 juta/gerbong sudah sampai ke Tanjung Priok. Umurnya baru 10-15 tahun dan kondisinya masih sangat layak jalan dan bisa beroperasi lebih optimal," ujar Humas KAI Mateta Rizalulhaq saat berdiskusi di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (14/5/2013).

KAI pun akan terus mengimpor kereta bekas asal Jepang sebanyak 180 gerbong/tahun. Naiknya jumlah penumpang KRL Jabodetabek membuat impor KRL bekas ini mau tidak mau harus dilakukan. Apalagi KAI punya ambisi menaikkan penumpang hingga 1,2 juta per hari di 2018.

"Rangkaian (kereta bekas) Jepang kita akan terus lakukan impor sebanyak 180 unit/tahun. Itu untuk mengganti KRL yang tua atau menambah jadwal perjalanan dari 540 menjadi 575 perjalanan. Sampai tahun 2018 kita punya target angkut 1,2 juta penumpang/hari. Penumpang sekarang baru 500-600 per hari dengan 575 perjalanan," tuturnya.

Namun ia juga mengungkapkan, alasan KAI memilih impor dan tidak membeli langsung kereta dari BUMN produsen kereta api yaitu PT INKA (Persero). "Kita butuh cepat dan kita butuh segera," cetusnya.

Di tengah kondisi neraca perdagangan yang mengalami defisit, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan setuju agar perusahaan BUMN menahan diri untuk tidak mengimpor kereta dan pesawat. Namun, imbauan ini tampaknya hanya angin lalu saja. Sebab, PT KAI masih jor-joran mendatangkan kereta bekas dari Jepang.

Direktur Utama PT Kereta Api (KAI) Ignasius Jonan menuturkan alasannya terus menerus mendatangkan kereta bekas dari Jepang untuk layanan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek. Salah satu alasannya, pihaknya harus untung, sementara pemerintah tak memberikan subsidi. Sehingga membeli kereta bekas, walaupun berisiko rusak lebih cepat jadi pilihan utama.

"Keretanya kan kereta bekas, 1-2 bolehlah rusak, tidak masalah. Bisa saja kereta baru, tapi ( tiket) Jakarta-Bogor Rp 30.000. Kalau mau murah, minta subsidi lebih besar dari pemerintah," kata Jonan di Jakarta, Jumat (27/9).

Sampai akhir tahun, KAI akan mendatangkan 60 kereta bekas baru dari Jepang. Tahun ini saja, perusahaan pelat merah itu telah mendatangkan 200 kereta bekas pakai. Sampai Maret 2014, gerbong dan lokomotif bekas dari Negeri Sakura, masih akan membanjiri Indonesia. "Kalau sampai Desember mungkin 60 (unit). Tapi total 180 unit sampai Maret tahun depan, bisa dioperasikan paling cepat Mei-Juni 2014," ungkap Jonan.

Karena kereta bekas, jadi kondisinya tidak optimal. Kereta-kereta bekas itu tak bisa langsung dioperasikan karena harus diperbaiki, di-setting ulang, serta diurus sertifikat kelaikan jalannya ke Kementerian Perhubungan.

"Kereta-kereta ini sebagian datang tahun ini, tapi kan butuh di-resetting, terus minta sertifikasi kemenhub, itu makan waktu bisa 1-3 bulan," cetusnya.

Walaupun bekas, Jonan menjamin kereta ini berkualitas standar. Gerbongnya pun berpendingin. Hal ini sejalan dengan upaya KAI menghapus layanan KRL ekonomi. "Sekarang sudah tidak ada lagi ekonomi," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menegaskan, pada 2016 PT KAI tidak akan lagi melakukan impor kereta bekas dari Jepang. PT KAI akan menggunakan gerbong produksi perusahaan pelat merah yaitu dari PT INKA.

Dahlan mengakui saat ini PT INKA belum mampu mencukupi kebutuhan gerbong PT KAI. Tapi, pada 2016 nanti, INKA harus sudah mampu memenuhi kebutuhan KAI. Jika direksi merasa tidak mampu, Dahlan mengaku tidak segan-segan akan mengganti.

Hari ini ane bingung  mo kerja apa main game dah bosan kelauar males mau tidur nagak mau,

mantapkan ngak ada kerja lagi lagi musim caleg maklum tinggal beberapa hari pemilihan umum tau pestau demogkrasi akan segera di mulai....


haha mirip semukan pakaianya merupak kamuplase photosop lo.....
keliatankan orang yang kurang pekerjaan